Waktu terus berjalan. Terkesan ada yang lalu, sekarang, dan yang akan datang. Meski hanya terduduk diam, tetap saja menjumpai yang lalu, sekarang, dan yang akan datang. Hal yang baik dan buruk terus terngiang. Hingga tiba waktunya, ketika dijumpai hari baru, bulan baru, tahun baru. Saat itulah banyak manusia yang merayakannya dengan gegap gempita. Gerak langkah mereka seakan dipercepat. Tujuannya adalah tempat-tempat yang menawarkan berbagai sajian hiburan. Hiburan secara batin, hiburan secara jasmani.
Dua kali dijumpai perayaan besar-besaran untuk hari baru, bulan baru, tahun baru. Ada berbagai macam kegiatan didalamnya. Dalam perhitungan kalender Gregorian,, Januari sebagai bulan awal untuk perhitungan 1 tahun. Sedangkan Desember merupakan bulan penghujung dalam hitungan tahun yang sama.
Malam 31 Desember. Awan berarak menyelimuti malam. Gerak langkah mereka seakan dipercepat. Bukan karena kekhawatiran akan basahnya hujan yang kemungkinan akan datang. Mereka bergerak menuju tempat yang menyajikan warna-warna hedon di dunia. Seakan peringatan menyambut hari baru, bulan baru, dalam hitungan tahun yang baru adalah hal yang tidak boleh terlewatkan.
Malam 00.00 waktu setempat telah ditunjukkan oleh sang waktu. Bunyi pemukul yang menyentuh kulit tambur seakan terdengar dari kejauhan. Bunyi itu terus merambat dari belahan dunia yang satu ke belahan dunia yang lain. Merambat melewati permukaan bumi. Bunyinya menggaung terpantul gunung, menyebar cepat ke seluruh samudra dan dataran. Mereka mengetahui tanda tersebut. Api dinyalakan untuk membakar sumbu-sumbu yang tergerai. Seakan pada titik ini adalah hari kemenangan. Hari yang gelap berubah dengan dentuman dan semburan warna-warna indah. Awan yang berarak tak akan pernah dihiraukan oleh mereka.
Di titik … LS, ketinggian 30 meter diatas permukaan tanah. Ditengah permukiman yang dikelilingi jalan kolektor primer. Terdengar dentuman dan terlihat semburan warna-warna indah dari kejauhan. Kota ini seakan hidup dan beraktivitas di waktu dini hari. Selayang pandang mengikuti arah angin. Didapati Gunung di Utara. Bukit di Timur. Laut di Selatan. Barisan bukit di Barat. Selayang pandang mengikuti arah angin yang sama, terdapat dentuman dan semburan warna-warna indah yang menghiasi.
Rahang terkatup rapat. Badan menggigil. Kaki tertekuk kaku. Tangan mencengkeram sejajar kaki. Mata menatap tajam. Raga tak berjiwa. Semakin samar dirasakan senyum tipis tergambar diwajah. Malam ini ada diantara mereka yang menang. Malam ini ada diantara mereka yang kalah. Sejauh mungkin jauhi dunia mereka. Hanya orang yang tak menghargai raga yang menganggap malam ini malam istimewa. Tak menghargai raga dengan menghabiskan malam tanpa amal. Pulang dengan keadaan terkapar.
Hanya orang yang tak menghargai raga yang menganggap malam ini malam istimewa. Karena sesungguhnya setiap malam adalah anugerah. Setiap detik adalah anugerah. Hari baru, bulan baru, tahun baru adalah soal waktu. Yang terpenting adalah bagaimana cara melewati waktu yang terus merambat dari ujung bumi ke ujung bumi lainnya.
“aTjhifkir, bLearjningar, Grivbekn itZ pd duun” kata yang duduk diatas sana.